Minggu, 09 Januari 2022

Bagaimana orang yang bersumpah palsu - A Hassan

Bagaimana orang yang bersumpah palsu ?

Sumpah di dalam bahasa Arab dikenal dengan lafaz halafa yang berarti mulazamah (keharusan), maksudnya apabila manusia telah bersumpah berarti dia telah mengharuskan dirinya untuk melaksanakan sumpahnya itu. namun terkadang ada beberapa orang yang melakukan sumpah palsu. berikut dalil-dalil larangan sumpah palsu :

اِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَاَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰۤىِٕكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ


Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. Q.S Al Imron no 77


orang orang yang menggunakan perjanjian atas nama Allah dan menggunakan sumpah-sumpah untuk mendapat harta itu di akhirat nanti, mereka akan mendapat adzab yang pedih


adapun dalam sebuah hadis dari ʻAbdullah bin

Amru yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:


حَدَّثـَنَا محَُمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَخْبـَرَنَا النَّضْرُ أَخْبـَرَنَا شُعْبَةُ حَدَّثـَنَا فِرَاسٌ قَالَ سمَِعْتُ الشَّعْبيِ َّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ

عَمْرٍو عَنْ النَّبيِِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَ يْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَبَائِرُ الإِْشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقـَتْلُ النـَّفْسِ وَالْيَمِينُ

١٢ الْغَمُوسُ .(رواه البخاري، الترمذى، النسائى)


Artinya:


Muhammad bin Muqatil menceritakan kepada kami, al-Nadr menceritakan kepada kami, Syuʻbah menceritakan kepada kami, Firas menceritakan kepada kami berkata, aku mendengar Syaʻbi, dari Abdulla>h bin Amru, dari Nabi saw. bersabda: dosa-dosa besar itu adalah mempersekutukan Allah swt, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah palsu. (H.R. al- Bukhari) 

Sabtu, 08 Januari 2022

Bagaimana Hukum Tidur Saat Khutbah Jumat ? - Ustadz Ahmad Anshori LC

Tidur merupakan kondisi dimana berpotensi datangnya sebab keluarnya hadas, kata lain yang merupakan pembatal wudhu. istilah dalam fiqih disebut “Madhinnah Lil Hadats”. Diungkapkan demikian karena sebenarnya tidur itu sendiri bukan pembatal wudhu. Wudhu orang yang tidur bisa batal jika memungkinkan keluarnya hadas seperti tidur yang nyenyak.

Sahabat Sofwan bin ‘Assal r.a beliau menceritakan,


كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَنْ لا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلا مِنْ جَنَابَةٍ ، وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ


“Rasulullah SAWA memerintahkan kami agar tidak melepaskan khuf (kaos kaki kulit) kami selama tiga hari tiga malam jika kami dalam bepergian kecuali dari janabat. Akan tetapi (kami tidak perlu mencopot khuf) dari buang air besar, kencing, dan tidur.” (HR. Tirmizi, dinilai hasan oleh Al-Albani)


Berikut pendapat para ulama yang berbeda beda diantaranya :

1. semua bentuk tidur membatalkan wudhu.

2. tidak ada tidur yang membatalkan wudhu.

3. jika tidurnya sambil duduk maka wudhu tidak batal. Namun jika tidurnya tidak dalam posisi duduk, maka wudhu batal.

4. semua tidur dapat membatalkan wudhu, kecuali tidur ringan, baik itu tidur dengan posisi duduk ataupun berdiri.

Batasan berat dan ringannya adalah selama seorang masih dapat merasakan jika ada hadas yang keluar, kentut misalnya, maka tidurnya disebut ringan. Namun jika tidak merasakan sama sekali, maka disebut tidur yang berat.


Pendapat yang Kuat (Rajih)

Pendapat yang kuat -wallahu a’lam- adalah pendapat keempat. Bahwa yang dapat membatalkan wudhu adalah tidur berat saja. Adapun tidur ringan, tidak.


Alasannya adalah:


Karena pendapat ini dapat mengkompromikan dalil-dalil yang ada, tentang tertidur setelah bersuci apakah membatalkan wudhu atau tidak.


Karena selain hadis dari sahabat Sofwan bin ‘Assal di atas, ada hadis lain dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang tampak berbeda. Beliau menceritakan,


أن الصَّحابة رضي الله عنهم كانوا ينتظرون العِشاء على عهد رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ حتى تخفِقَ رؤوسهم ثم يُصلُّون ولا يتوضؤون


“Para sahabat SAW pernah menunggu sholat jama’ah isya di zaman Rasulullah SAW, sampai kepala mereka mematuk-matuk (karena ngantuk). Lalu mereka sholat tanpa mengulang wudhu.” (HR. Muslim)


Sisi komprominya adalah:


Hadis ini dimaknai tidur yang ringan, tidak membatalkan wudhu.


Lalu hadis Sofwan bin ‘Assal dimaknai tidur yang berat, mengakibatkan wudhu batal.


Di antara ulama yang menguatkan kesimpulan ini adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Ulama kontemporer yang memilih pendapat ini adalah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah.


Pendapat ini dikuatkan oleh hadis,


العين وِكَاء السَّهِ ، فإذا نامت العينان استطلق الوكاء

“Mata adalah tutupnya dubur. Jika mata tertidur maka tutup dubur akan terlepas.” (HR. Ahmad, dinilai Hasan oleh Syaikh Al Albani)


Wallahu a’lam


Bolehkah shalatkan jenazah dengan tidak berwudhu?

Shalat jenazah ini, ada yang pandang sebagai satu dua saja, lantaran padanya tidak ada ruku', sujud dan attahiyat. Oleh karena itu, mere...